Monday, April 23, 2012

Ciwidey, 22 April 2012


Bermula dari sebuah post di web yang meuji-muji obyek wisata Kawah Putih, saya penasaran seperti apa sih indahnya obyek itu. Kebetulan saat itu mungkin rasa nekad saya sedang memuncak, dan kebetulan pula pada hari Sabtu 21 April 2012 yang lalu saya ada acara tapi bukan dalam rangka tugas kantor di Jakarta. Dengan cepat saya putuskan, hari Minggunya saya harus bisa melihat Kawah Putih. Lalu saya browse info tentang obyek ini, dan ternyata saya mendapatkan info yang menarik: lokasinya di sekitar Ciwidey, sekitar 46 km di selatan kota Bandung, dan di sekitar itu ada beberapa obyek wisata lain yang patut dikunjungi (setelah saya lihat sendiri, ternyata ada tujuh obyek).

Tibalah saat persiapan. Itinerary perjalanan pun disusun. Saya harus sampai Bandung hari Sabtu malam, menginap semalam, baru Minggu pagi berangkat ke Ciwidey. Tak lupa pula saya menyewa mobil untuk transportasi menuju lokasi. Sabtu sore menjelang memasuki Bandung, saya mengkonfirmasi pak sopir yang akan mengantar saya, dan saya sangat terkejut mendengar jawabannya. Dia bilang hari itu dia sakit, sehingga tidak bisa mengantar saya esok paginya. Saya agak panik dan malam itu saya mencoba mengontak beberapa teman yang ada di Bandung. Saya semakin panik karena menjelang jam 10 malam belum dapat mobil pengganti juga. Tapi ternyata Tuhan memang mengijinkan saya untuk tetap berwisata, akhirnya malam itu saya mendapatkan mobil atas bantuan seorang teman. Avanza dan sopirnya siap membawa saya ke Ciwidey…

Saya berangkat dari rumah saudara sekitar jam 7.30. Saya pikir, jarak 46 km paling lama ditempuh dalam waktu 60-75 menit. Ternyata saya salah besar. Selepas pintu keluar tol Purbaleunyi ke arah Kopo/Sorean, mulailah kemacetan melanda. Itu masih pagi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana macetnya saat siang. Di Kopo macet, di Soreang juga. Bahkan di ibukota Kabupaten Bandung ini macetnya agak lama, karena jalan rayanya digunakan masyarakat untuk berkegiatan Minggu pagi. Ada yang olah raga, ada yang jajan, ada yang jualan, dsb. Singkat kata, saya sampai di Kawah Putih setelah menempuh hampir 2,5 jam perjalanan.

Begitu masuk ke pintu masuk kompleks Kawah Putih, semua kejengkelan hilang. Suasana hijau asri plus udara segar seketika menghilangkan semua emosi. Maklum saja ketinggian lokasi ini hampir 2000 dpl. Dari pintu masuk ini sampai ke lokasi kawahnya masih sekitar 5 km lagi, dengan jalan sempit melingkari Gunung Patuha. Ada dua macam cara untuk naik ke lokasi kawah: naik mobil sendiri atau ikut angkutan umum. Kalau naik mobil sendiri, biayanya dipukul rata Rp 150 ribu (mobil + semua penumpangnya). Jika naik angkutan umum, biayanya Rp 15 ribu per orang. Saya hanya membayar Rp 30 ribu saja dan bisa pakai mobil sendiri. Rahasianya? Karena yang punya mobil terafiliasi dengan Dinas Kehutanan Prov. Jabar…hehehe…

Akhirnya mobil saya sampai di lokasi kawah. Di sana ada tempat parkir yang luas dan tertata rapi. Ada tulisan “Kawah Putih” besar di situ. Kawah Putih mendapatkan namanya dari kenyataan bahwa tepiannya berwarna putih. Bukan pasir, tapi sulfur. Bau sulfur memang terasa sekali, tapi saat saya datang, bau itu tidak terlalu menyengat. Kalau tidak tahan baunya, banyak penjual masker di area parkir itu. Kawahnya sendiri terletak sekitar 100m dari tempat parkir mobil. Sayapun segera turun dan berjalan menuju kawah.

Begitu melihat kawah, subhanallah…indah sekali. Hamparan air berwarna biru muda seolah dipangku oleh gunung karang yang kokoh, bertemu dengan batu-batu sulfur berwarna putih di tepiannya. Sesekali bertiup kabut di permukaannya, membuat suasana menjadi sedikit agak mistis. Saya yakin suasana mistis ini akan lebih terasa saat tidak banyak pengunjung, apalagi kalau kita mendekat ke kayu-kayu pohon yang mati menghitam karena tidak kuat menahan pengaruh sulfur. Suatu saat saya ingin kembali ke sini menjelang sore dan pada waktu tidak libur sehingga tidak banyak pengunjungnya. Saya rasa saat terbaik untuk mengunjungi Kawah Putih adalah saat tidak banyak hiruk pikuk dari pengunjung sehingga kawah itu bisa memperlihatkan nuansa kehampaan yang luar biasa. Bayangkan, di kawah itu sama sekali tidak ada gerak mahluk sebagai ciri kehidupan. Tidak ada hewan darat, air, maupun udara di sekitarnya. Jika tidak ada manusia di situ, maka yang ada hanyalah kediaman yang membeku…

Cukup lama saya berada di kawah, mungkin hampir 1,5 jam. Saya ingin benar-benar menikmati suasananya. Meski banyak wisatawan, tapi tetap saja saya bisa menikmati suasana tenang dan sejuk yang ditingkahi dengan unsur mistis…

Setelah puas memotret, saya kembali ke mobil. Saya bertanya ke mas Adang yang menyopiri mobil, obyek apa lagi yang bisa dilihat di sekitar itu. Dia mengusulkan ke Situ Patengan. Dalam perjalanan ke Situ Patengan, saya melewati kebun the yang luar biasa indahnya. Menurut saya pemandangannya lebih bagus daripada di Puncak atau Lembang.

Situ Patengan sendiri terletak sekitar 5 km dari Kawah Putih ke arah selatan. Lokasinya di antara kebun teh. Menjelang sampai ke lokasi, saat jalan agak menurun, ada satu spot yang breathtaking sekali. Dari situ terlihat danaunya di kejauhan dengan air berwarna kebiruan, dan di foreground ada hamparan tanaman teh yang menghijau. Luar biasa indahnya.

Di Situ Patengan sendiri lokasinya lebih ramai pengunjung, karena ada atraksi menyewa perahu mengelilingi danau. Saya sebenarnya ingin juga menyewa, tapi saat itu hujan mulai turun, sehingga viewnya kurang bagu untuk berburu foto. Akhirnya cukuplah berfoto-foto di pinggir danaunya saja. Karena hari sudah siang, saya tidak berlama-lama di Situ Patengan. Sekitar jam 12.30 saya pulang kembali ke Bandung.

O ya, di sepanjang jalan antara Ciwidey dan Kawah Putih ada banyak kebun strawberry yang menawarkan sistem petik sendiri. Saya ingin membeli strawberry, tapi tidak mau memetiknya. Terlalu lama, dan saya tidak tertarik…Untungnya saat saya mampir ke salah satu kebun, pas saat itu penjualnya bilang dia baru saja menerima kiriman satu boks besar strawberry yang masih fresh dari kebun. Langsung saja saya borong, harganya Rp 30 ribu per kilo. Saya tidak tahu apakah harga segitu itu murah atau mahal, pokoknya saya beli saja 2 kilo. Menurut saya sih tidak mahal, karena strawberrynya besar-besar dan manis. Kalaupun mahal, saya tetap tidak merasa rugi…hehehe…

Setelah beli strawberry, saya melanjutkan perjalanan pulang. Sebelum pulang, saya sempatkan juga mampir di Kartika Sari cabang Kopo. Seperti biasanya saya cari roti kesenangan anak-anak. Akhirnya jam 4 saya sampai di Bandung kembali, dan jam 7 malam melanjutkan perjalanan pulang ke Yogya.

Kesimpulan: Ciwidey sangat recommended untuk dikunjungi jika anda suka akan wisata alam. Kalau berkunjung ke sana sebaiknya menginap karena ada beberapa obyek lain yang juga menarik. Ada pemandian air panas, ada tempat penangkaran rusa, dan sebagainya. Di sekitar Ciwidey ada beberapa penginapan yang cukup baik. Saya rasa info tentang penginapan bisa dicari di Google.

Foto-foto perjalanan saya ke Kawah Putih dan Situ Patengan bisa dilihat di: http://goo.gl/JDOUI



Saturday, April 07, 2012






Di antara Sumbing dan Sindoro

Pada libur panjang kali ini saya ingin melakukan hobi yang sudah agak lama tidak tersalurkan: jalan-jalan sambil memotret. Tadinya ingin ke lokasi yang agak jauh dan mengeksplorasinya dalam waktu yang agak lama, tapi karena ada anak yang tidak libur hari Sabtunya, rencana itu urung dijalankan. Saat memilih lokasi pengganti, saya teringat suatu tempat di antara Wonosobo dan Parakan. Kledung adalah daerah dengan elevasi tertinggi di antara kedua kota tersebut. Kledung terletak di antara dua gunung: Sindoro dan Sumbing. Saya pernah lewat daerah tersebut saat matahari baru saja terbit, tepatnya pada strip jalan lurus dari arah Wonosobo sebelum masuk ke Kledung. Di sisi kanan ada Sumbing, dan di sisi kiri ada Sindoro. Sinar matahari yang menyembul membuat punggun Sumbing dan Sindoro memerah. Dihiasi oleh kabut tipis yang tersisa, sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah …

Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Kledung. Saat mencari hotel via Internet, kebanyakan informasi menunjukkan hotel di Wonosobo. Tidak…saya tidak ingin menginap di Wonosobo. Saya ingin menginap di Kledung. Tiba-tiba saya teringat juga, saat lewat daerah itu, ada penginapan yang sepertinya cukup bagus. Saya lupa namanya, tapi akhirnya ketemu juga: Kledung Pass Hotel. Setelah berburu di Internet lagi, ketemulah nomor teleponnya. Reservasipun dibuat, tapi sebetulnya tidak perlu karena mbak petugasnya bilang masih banyak kamar yang kosong.

Akhirnya saya dan istri berangkat hari Kamis sore jam 15.30. Kledung terletak sekitar 17km setelah kota Parakan dari arah Yogya. Perjalanan dari Yogya ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Perjalanan lancar, dan kami makan malam di RM Ani, dekat kota Parakan. Sampai di penginapan sekitar jam 19. Lokasi hotel di sebelah kanan (utara) jalan, pada jalan lurus setelah tanjakan Kledung yang berkelok-kelok. Kami agak terkejut karena tidak mengira hotelnya cukup bagus dan bersih. Sangat menarik mengingat biayanya hanya Rp 275 ribu per malam, sudah termasuk makan pagi untuk 2 orang.

Uniknya hotel ini adalah ada dua pilihan kamar: view menghadap gunung Sumbing atau menghadap gunung Sindoro. Setelah saya bandingkan, view ke Sumbing lebih bagus. Kamarnya sendiri tidak terlalu besar, tapi bersih. Ada teras kecil di luar kamar, sangat nyaman untuk memandangi Sumbing yang seolah-olah ada di hadapan kita persis. Oh..jangan berharap ada AC di hotel sekitar Kledung.. :D

Pagi harinya saya sudah siap setelah subuh. Ternyata masih gelap. Langit mulai memerah sekitar jam 5.45. Sosok Sumbing dan Sindoro mulai terlihat. Saya mulai mengeksplorasi daerah di sekitar hotel, dan mengambil beberapa foto (bisa dilihat di Album Foto di Google+ saya di http://goo.gl/5KWp3).

Hawa yang segar dan pemandangan yang indah sungguh membuat orang bisa berlama-lama di daerah ini. Sayangnya tidak ada obyek wisata atau kegiatan wisata lain yang tersedia. Padahal mungkin trekking ke kaki Sumbing atau Sindoro bisa dilakukan, mengingat jarak ke kedua gunung tersebut relatif dekat. Di sekitar hotel hanya ada kebun sayur, yang saat ini masih dalam tahap pengolahan tanah sehingga tidak menarik untuk dilihat-lihat.

Setelah puas memotret, kami sarapan di rumah makan yang ada di depan hotel. Sarapan yang diperoleh bisa dipilih: nasi goreng, rames, atau rawon (tidak ada menu continental di sini), tapi di rumah makan itu juga ada banyak lauk tambahan kalau kurang puas dengan menu basic tersebut.

Sebenarnya saya ingin tinggal di situ sampai menjelang sunset karena ingin merasakan view yang berbeda, tapi sayangnya tidak bisa dilaksanakan. Saya ingin merasakan suasana misty, sore temaram dan berkabut. Pasti menarik untuk difoto, tapi mungkin untung-untungan tergantung waktunya juga.

Anyway, saya puas dengan trip semalam ke Kledung ini. Suasana tenang, pemandangan indah, dan udara segar plus beberapa foto cukup untuk recharge energi dan memulihkan suasana hati. Saran saya, kalau mau pergi ke sini, usahakan untuk sampai di Kledung sebelum jam 17 agar bisa menikmati suasana menjelang matahari tenggelam.

Sunday, September 04, 2011

Tips untuk Mudik yang Menyenangkan

Tanpa terasa sudah 7 tahun ini saya melakukan ritual tahunan mudik dengan kendaraan (mobil) sendiri. Pertimbangan utamanya sih karena masalah biaya: keluarga saya cukup besar, sehingga kalau harus naik pesawat, perlu biaya besar pula. Lagipula rasanya akan lebih fun jika perjalanan mudik ini dinikmati bareng-bareng dengan fleksibel, tidak tergantung jadwal orang lain. Apalagi mobil saya, Honda Stream 2000cc, termasuk cukup handaldan nyaman untuk traveling jarak jauh. Jadilah mudik dengan mobil menjadi acara rutin tahunan kami, dan setelah menjalaninya selama 7 tahun, rasanya ada beberapa hal yang bisa dibagi khususnya bagi para "mudikers" bermobil lainnya.

Mudik sebenarnya bisa dilihat dari dua sisi. Secara fisik, ia adalah mobilitas orang. Secara mental, ada unsur transendental di sana. Menengok orang tua dan bersilaturahmi dengan saudara mengandung nilai-nilai moral dan tradisi yang tinggi, yang tidak selalu dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang berada di luar tradisi tersebut. Dalam event Lebaran, kedua sisi itu bertemu. Dengan demikian menjadi masuk akallah jika jutaan orang rela bersusah payah menempuh kemacetan dan berbagai kesulitan lainnya untuk memenuhi kewajiban tradisinya itu.

Tentu saja dengan berjalannya waktu, terjadi pula pergeseran-pergeseran dalam hal mudik, baik secara nilai maupun secara fisis. Saya bahas sisi fisisnya saja. Yang pertama, terjadi pergeseran pola waktu mudik. Jaman dulu, yg ada dalam pikiran saya adalah bahwa mudik itu dilakukan oleh orang-orang kota (besar) sebelum lebaran. Artinya, setelah hari raya, arus outbound dari Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya akan minimal. Hal ini ternyata tidak lagi berlaku saat ini. Saya amati bahkan setelah hari-H, arus keluar dari Jakarta masih tinggi.

Di sisi lain, cukup banyak pula orang yang tidak berlama-lama mudik. Artinya sejak hari H+1, trafik arus balik sudah mulai terlihat, meski masih sedikit.

Perubahan pola waktu mudik (dan balik) ini berimbas pada kondisi trafik di sepanjang jalur mudik tentunya. Jika sebelum hari-H jalur-jalur jalan didominasi oleh jalur mudik, pada hari-hari setelah lebaran, trafiknya bercampur. Ada arus mudik, ada arus balik, dan ada trafik lokal. Yang terakhir ini adalah para pemakai jalan yang bepergian jarak dekat saja. Kondisi inilah yang perlu diwaspadai, karena efeknya bisa di luar dugaan.

Pada kondisi beban puncak, jarak tempuh bukanlah menjadi fungsi waktu. Jogja - Semarang yang cuma 120 km dan normalnya ditempuh dalam waktu 3 jam, saat macet-macetnya bisa memerlukan waktu 8 jam atau lebih. Ada saudara saya dari Surabaya mau ke Jogja, dia harus berada di jalan selama lebih dari 17 jam. Tahun 2010, saya perlu waktu 3 hari 2 malam untuk menempuh perjalanan Jogja - Lampung.

Sungguh absurd rasanya, tapi inilah realitas mudik. Meskipun secara mental kebanyakan orang sudah siap menghadapi kenyataan ini, ada baiknya kita juga melakukan beberapa persiapan agar perjalanan kita, meskipun tersendat, masih bisa dinikmati dengan baik.

Yang pertama adalah identifikasi lokasi-lokasi rawan macet. Memang tidak bisa diprediksi, tetapi pengetahuan tentang lokasi-lokasi ini bisa menambah kesiapan kita. Secara umum, tempat-tempat rawan macet dicirikan oleh satu atau lebih penyebab sbb: adanya tempat keramaian (mis: pasar), medan jalan yang sulit (naik turun/berkelok-kelok), jalan yang sempit, dan adanya perlintasan kereta api. Beberapa lokasi rawan macet yang pernah saya temui antara lain: sekitar Indramayu (pasar), sepanjang Tasikmalaya-Nagreg (jalan naik turun/berliku), Bumiayu-Prupuk (perlintasan KA/jalan tidak lebar), dan Kebumen-Gombong (perlintasan KA). Untuk diketahui saja, dalam masa lebaran, untuk jalur KA yang sibuk, frekuensi KA lewat rata-rata adalah tiap 17 menit.

Untuk meminimalkan kemacetan, ada beberapa tips yang bisa dijalankan. Yang pertama, gunakan jalur alternatif (jika ada). Beranilah untuk bereksplorasi. Jalur alternatif biasanya kondisinya tidak sebagus jalur utama, tapi dalam situasi macet, hal ini tentu saja bisa diabaikan. Untuk membantu mencari jalur alternatif, alat navigasi berbasis GPS akan sangat membantu. Yang kedua, rencanakan waktu perjalanan. Minimalkan faktor-faktor pencetus kemacetan. Yang bisa diminimalkan adalah trafik lokal. Para local travellers ini aktif pada siang sampai sore hari, jadi pilihlah waktu yg tepat utk melakukan perjalanan. Sebagai contoh, saat berangkat dari Jogja kemarin, saya start jam 7 pagi dan lewat jalur selatan-selatan. Hanya dalam waktu 3,5 jam saya sudah sampai Gombong. Not bad dalam kondisi lebaran :)

Persiapan penting lain sebelum melakukan perjalanan mudik adalah mobil kita. Kehandalan itu mutlak harus, tapi selain itu, mobil harus bisa memberikan kenyamanan secukupnya. Saya pernah melihat sebuah Suzuki Carry diisi sampai 9 orang plus berbagai bawaan. Menurut saya, itu menyiksa baik mobil maupun penumpangnya. Berilah ruang yang cukup untuk tiap penumpang, agar mereka bisa istirahat dengan cukup nyaman. Lengkapi pula mobil dengan hiburan, misalnya musik atau film (khususnya jika membawa anak-anak). Mobil saya tidak ada alat pemutar videonya (sebenarnya ada, tp tidak berfungsi dng baik), tapi dengan Galaxy Tab yang dipasang di dashboard untuk memutar film, anak-anak bisa cukup terhibur. Oh ya, jangan lupakan pula logistik. Bawalah makanan dan minuman secukupnya agar tidak bingung saat dibutuhkan.

Dengan alasan yang sama, janganlah mengambil resiko dengan ketersediaan bahan bakar. Jangan menunggu mengisi bensin sampai indikator bahan bakar berkedip-kedip. Kalau pas perlu mengisi bensin pas terjebak macet akibatnya bisa fatal. Lagipula saat terjadi kemacetan, besar kemungkinan pompa-pompa bensin juga kehabisan stok, karena pengirimannya terhambat macet.

Dan yang paling penting pada akhirnya memang pengendalian diri. Saat terjebak kemacetan, biasanya emosi jadi naik. Tidak ada gunanya emosi, sebaiknya dibuat santai saja. Tidak usah menggerutu karena semua orang juga mengalami hal yang sama. Kalau pas macet panjang, matikanlah mesin lalu lakukan hal-hal yang biasanya tidak bisa kita lakukan, misalnya duduk-duduk di tengah jalan. Kalau bawa gitar, mainkanlah…It's fun…

Meskipun tidak macet, emosi dan sikap tidak menangnya sendiri juga tetap harus dijaga. Sepertinya ini yang susah, karena kemacetan itu juga sedikit banyak disebabkan karena ulah para pengemudi yang tidak sabar dan tidak mau memperhatikan pengendara lainnya.

Akhirnya, selamat menjalani mudik. Semoga perjalanannya lancar (meskipun macet) dan menyenangkan...

Thursday, September 16, 2010

Perjalanan Mudik: Sebuah Rekor

Seperti tahun-tahun kemarin, saya sekeluarga merencanakan mudik ke Lampung pada sehari setelah Lebaran (H+1). Biasanya kami berangkat pagi-pagi, lalu menginap di sekitar Jakarta sebelum meneruskan perjalanan ke Lampung esok harinya. Normalnya perjalanan Yogya-Lampung ditempuh dalam waktu 2 hari 1 malam.

Sehari sebelum lebaran (hari Kamis), tiba-tiba 3 anak laki-laki saya sakit. Gejalanya seragam: badan panas, batuk, dan meriang. Tentu saja kami tidak bisa membawa anak-anak yg sedang sakit untuk mudik, sehingga terpaksa mudiknya ditunda sampai mereka sembuh. Untunglah penyakitnya tidak serius, jadi 3 hari kemudian mereka sudah mulai sehat kembali.

Akhirnya hari Senin pagi tgl 13 September berangkatlah kami ke Lampung. Berangkat dari rumah sekitar jam 10.30 karena banyak hal yg harus dipersiapkan. Saya sadar bahwa hari itu diramalkan puncak arus balik khusus PNS (dan mungkin juga karyawan swasta) karena tgl. 14 September mereka sudah harus masuk kantor kembali.

Awalnya perjalanan berasa lancar-lancar saja, tetapi sampai selepas Purworejo, gejala tidak baik mulai terasa. Kemacetan mulai muncul, sehingga Yogya-Kebumen ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam! Kemacetan semakin menjadi di Karanganyar dan selepasnya, sehingga setelah maghrib kami baru lepas dari Wangon (Banyumas). Tadinya saya mau belok ke kanan ke arah Ajibarang utk kemudian lewat jalur utara, tapi pak polisi di perempatan Wangon bilang kalau di Bumiayu macet total, sehingga kami diarahkan lewat jalur selatan. Saya menurut saja, dan akhirnya saya terus saja melewati Majenang dan Banjar. Sekitar jam 9, kami semua sudah capai, dan akhirnya saya memutuskan menginap di Ciamis. Kebetulan ada hotel di pinggir jalan besar, tapi ternyata itu pilihan yg buruk karena saya malah tidak bisa tidur karena suara mobil & motor sepanjang malam membuat saya tidak bisa istirahat dengan baik.

Hari kedua: perjalanan menguji kesabaran.

Kami berangkat dari hotel di Ciamis sekitar jam 9 pagi. Awalnya lancar, tapi begitu masuk daerah Rajapolah (Tasikmalaya), kemacetan mulai terasa. Kemacetan semakin menjadi menjelang masuk Ciawi. Di sini benar-benar berhenti. Kalau diajak balapan sama kura-kura saja, pasti menang kura-kuranya... Walhasil jarak sekitar 35km ditempuh dalam waktu 6 jam. Akhirnya sekitar jam 3 saya memutuskan untuk istirahat di pompa bensin, sekalian mengisi bensin yg sudah kritis. Problemnya ternyata belum selesai: stok premium di semua pompa bensin habis! Akhirnya tetap saja saya masuk ke sebuah pompa bensin yg agak besar, mobil diparkir di situ, dan penumpangnya bergeletakan sambil mencari makan siang... Untungnya 1 jam kemudian stok premiumnya datang, dan 30 menit setelah itu kami berangkat lagi.

Untungnya setelah itu perjalanan lancar. Nagrek dapat saya lewati dengan lancar, melalui jalan baru yg belum lama dibuka. Tapi saat itu kami semua sudah capek fisik dan emosinya. Dari Nagrek saya menyetir mobil tanpa soul. Tangan dan kaki saya seolah bekerja sendiri, tanpa diperintah oleh otak saya. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di Cikarang, sekitar jam 10 malam, karena semua sudah teler. Menginaplah kami di Hotel Grand Cikarang.

Hari ketiga: mudik dengan lancar

Dari hotel kami berangkat kira-kira jam 9.30. Tujuan: ke Depok, mengantar anak mbarep yang sudah akan masuk sekolah lagi (F. Psikologi UI ternyata lebih rajin daripada JTETI UGM yg baru memulai kuliah tgl 20 Sept). Saya tidak paham jalan-jalan di Jakarta, tapi alhamdulillah ada si Mio yang terpasang di depan saya. Navigator GPS inilah yang membantu saya menunjukkan rute ke Depok (meskipun harus saya setel-setel dulu, karena rute default yg dia sarankan melewati jalan-jalan kecil yang saya blum pernah dengar sebelumnya).

Saat di Depok, hujan turun dengan deras. Saya mulai khawatir kalau macet akibat jalanan banjir. Untungnya daerah Depok, Margonda, dan JORR bukanlah daerah banjir, sehingga perjalanan dapat dilanjutkan dengan aman.

Akhirnya jam 16.30 saya sampai di Merak. Pelabuhan ferry tidak begitu ramai, dan perjalanan menyeberang ke Bakauheni juga cepat. Hanya dalam waktu 2 jam kapal sudah docking di dermaga Bakauheni, dan saya keluar dari kapal kira-kira menjelang pukul 19.00. Dari Bakauheni ke Bandarlampung, yang ramai adalah arus baliknya. Sepertinya pemudik lebih suka menyeberang saat malam hari karena tidak panas.

Begitu menapak di bumi Lampung, saya benar-benar ingin segera sampai ke rumah ibu mertua. Pikiran cuma satu: ingin tidur sepuasnya. Stream saya pacu dengan cepat. Yang tadinya keluar kapal urutan ke sekian, sampai di Tarahan sudah jadi yang terdepan...Akhirnya sekitar jam 20.45 tibalah saya di tujuan dengan selamat. Dan sebelum tidur, istri saya mengaku kalau tadi dia sebenarnya agak takut karena saya ngebut sekali... :)

Inilah perjalanan mudik terpanjang saya: Yogya-Lampung dalam 3 hari 2 malam...

Sunday, April 04, 2010








Pantai-Pantai di Gunung Kidul (Maret - April 2010)

Sudah lama sebenarnya saya ingin menjelajahi pantai-pantai di Gunungkidul. Banyak sumber mengatakan bahwa Kabupaten Gunungkidul memiliki beberapa pantai yang mempesona. Akhirnya tgl 16 Maret 2010 kemarin tibalah kesempatan itu. Saat libur Nyepi, saya, istri, dan 3 jagoan kecil kami berangkat menuju ke daerah di selatan Yogyakarta tersebut.

Perjalanan dimulai pagi sekitar jam 6.30. Tujuan pertama semula adalah Baron, tetapi ternyata saya salah jalan. Kalau mau ke Baron, harusnya di kota Wonosari belok ke selatan, tetapi saya kebablasan ke timur cukup jauh. Akhirnya rute diubah, kami ke pantai di sebelah timur dulu. Rute ke Wediombo cukup jelas, ikuti saja petunjuk jalannya yang cukup banyak tersedia sepanjang jalan. Sekitar jam 8.30, sampailah kami ke Wediombo. Masih sepi di sana, belum ada orang. Profil pantai Wediombo adalah bebatuan, cukup menarik untuk lokasi pemotretan (terutama bagi yang narsis...hehehe).

Kami tidak lama di Wediombo, seterusnya melanjutkan perjalanan ke pantai Siung. Sudah agak panas ketika kami sampai di Siung. Menurut saya, pantai ini biasa-biasa saja. Tidak ada artifak alam yg menonjol, tapi krn anak-anak sudah ingin sekali main air, maka kami berhenti agak lama di sini. Setelah lelah bermain, anak-anak minta makan siang. Ada beberapa warung makan di sini, tapi menunya terbatas ikan dan jenisnyapun tidak banyak. Saran saya, kalau mau makan, pesan dulu saja karena proses memasaknya lama (terutama kalau ikannya minta dibakar).

Setelah dari Siung, kami terus ke Sundak. Pantai yg katanya namanya berasal dari kata "asu" dan "landak" ini cukup bagus, terutama kalau sedang surut airnya. Hamparan pasirnya cukup panjang dan lebar, tapi kalau mau mandi harus hati-hati karena di pinggir pantai banyak koral yang bisa menyebabkan luka jika terjatuh.

Kami tidak tahu kalau sebenarnya pantai Sundak ini sudah dekat dengan pantai Krakal (jika dilihat di Wikimapia.org, kelihatan kalau kedua pantai ini sebenarnya bersebelahan). Karena hari sudah menjelang sore dan anak-anak sudah kelelahan, akhirnya saya memutuskan pulang ke Yogya. Pantai-pantai lain yang belum tersinggahi akan kami kunjungi di lain waktu.

Jumat, 2 April 2010.

Akhirnya kesempatan keduapun datang. Hari Jumat 2 April 2010 adalah libur wafat Isa Almasih. Kamipun berangkat setelah makan siang. Kali ini saya menempuh jalan yang benar, menuju Baron. Setelah sampai di Baron, kami tidak langsung ke pantainya, tetapi menyusuri jalan ke Kukup. Ternyata jalan ini adalah jalan yg menghubungkan banyak pantai yg lain: termasuk Sepanjang, Drini, Krakal, Sundak, dan seterusnya sampai Wediombo. Jadi sebenarnya mudah untuk mengakses pantai-pantai ini. Ikuti jalan ke pantai Baron (Baron adalah pantai yang paling barat dari sederetan pantai-pantai ini), lalu sebelum masuk ke Baron belok kiri. Pantai pertama setelah Baron adalah Kukup.

Kami menyusuri jalan ini sampai ke pantai Krakal. Pantai Krakal cukup luas dan memiliki bentangan yang lebar. Saat kami sampai ke sana, airnya sedang surut. Banyak orang mencari hewan-hewan kecil utk dibuat makanan (rempeyek dsb). Kalau anda suka fotografi dan punya lensa wide angle, berdiri di titik di tengah bentangan pantai akan memberikan view yang indah, apalagi kalau sedang surut airnya. Hamparan pasir yang cukup luas juga memberikan berbagai peluang fotografi yang mempesona, apalagi dikombinasikan dengan suasana sunset atau sunrise.

Setelah puas di Krakal, kami langsung ke Baron untuk mencari penginapan. Tidak ada hotel yang cukup representatif, jadinya kami menginap di losmen sederhana. Seperti telah diduga sebelumnya, di losmen seperti ini "apapun bisa terjadi", termasuk pasangan-pasangan yang masih sangat muda yang check-in dengan santainya...hehehe...Untung anak2 kami masih kecil, sehingga kami tidak direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit :p

Besok paginya, sebelum sarapan, kami jalan lagi. Jam 6.30 sudah berangkat, menuju Drini. Karena masih pagi, maka belum banyak orang, dan pantainya kelihatan indah. Apalagi di Drini ada satu spot yang tergenang air tetapi tidak kena ombak. Dengan angle yang pas, air yang tenang ini bisa dimanfaatkan untuk membuat efek mirror yang indah, dengan obyek ombak dan langit di backgroundnya. Di Drini kita juga bisa naik ke atas bukit, yang meskipun tidak terlalu tinggi tapi menawarkan view yang breathtaking...

Puas di Drini, kami pulang ke losmen, makan pagi, mandi, lalu checkout. Sebelum pulang, kami mampir ke Kukup. Kukup pantai yang indah juga, apalagi jika dilihat dari gardu pandang yang sengaja dibangun di atas karang yang menjorok ke laut.

Akhirnya menjelang tengah hari kami pulang ke Yogya dengan puas. Berdasarkan pengalaman saya, sebenarnya obyek-obyek pantai di Gunungkidul ini bagus-bagus, dan bisa diakses dengan mudah. Jika mau, paling tidak 5-6 pantai bisa dikunjungi dalam satu hari. Rute bisa dimulai dari timur (Wediombo) ke barat (Baron) atau sebaliknya. Jika ingin tour seperti ini, disarankan berangkat dari Yogya pagi-pagi benar (sebelum jam 6 pagi).

Foto-foto tentang pantai-pantai tersebut bisa diakses di Web Album Picasa saya.