Saturday, January 17, 2009








Bengkayang, Kalimantan Barat, 13-14 Januari 2009

Biasanya jika saya harus melakukan perjalanan terkait dengan pekerjaan, tujuannya adalah kota besar. Kali ini agak beda, saya harus melakukan perjalanan ke Bengkayang. Nama Bengkayang inipun baru saya dengar sekarang, dan saat itu saya tidak tahu di mana letak persisnya. Ternyata Bengkayang adalah sebuah kabupaten baru hasil pemekaran tahun 1999 di Kalimantan Barat. Letaknya di sebelah timur kota Singkawang.

Ibukota kab Bengkayang namanya Bengkayang juga. Janganlah membayangkan "kota" Bengkayang seperti ibukota kabupaten di Jawa. Sebelum menjadi ibukota kabupaten, Bengkayang hanyalah kota kecamatan, dan sepertinya setelah hampir 10 tahun kondisi tersebut masih belum banyak berubah, kecuali munculnya bangunan-bangunan baru berupa kantor instansi pemerintah kabupaten. Kegiatan ekonomi? Seadanya saja... Yang disebut "kota" hanyalah satu lajur jalan yang membujur dari barat ke timur kira-kira sepanjang 3-4 km. Tidak ada industri, tidak ada hiburan, tidak ada hotel yang representatif (saya menginap di mess milik pemerintah kabupaten) ... Saya tebak pembangunan di daerah ini masih sangat bergantung pada dana dari pusat. PAD-nya masih sangat jauh dari cukup untuk bisa mendukung pembangunan di daerah.

Yang menarik dari perjalanan saya kali ini adalah perjalanannya sendiri. Saat ini musim hujan, dan banyak banjir. Mobil yang saya tumpangi sempat harus balik arah karena jalan yang dilalui putus diterjang banjir. Rute alternatif yang dilewati melalui kota Singkawang, yang saat itu juga sedang kebanjiran. Dan di sepanjang jalan, halaman rumah-rumah penduduk juga penuh air, sebagian malah masuk ke dalam rumah.

Meskipun kelihatannya "menyeramkan", tapi banjir di Kalimantan tidak seperti banjir di Jawa yang bersifat menghancurkan secara massal. Mungkin karena tanah di Kalimantan masih relatif kosong. Mungkin juga karena banjir di sana relatif cepat surutnya. Masyarakat juga nampaknya sudah terbiasa menghadapinya. Di kota Singkawang misalnya, banjir malah dijadikan sarana hiburan. Anak-anak kecil ramai-ramai bermain air di jalan raya yang terendam.

1 comment:

Anonymous said...

Wew..
Saya juga baru pulang kampung ke Pontianak awal tahun kemarin, Pak.

Belum sempat ketemu banjir udah balik ke jogja lagi..

Dan malah belum pernah sampai bengkayang tu, Pak. hehe..

Soal perkembangan daerah.. no comment deh.. *pasrah*


aftri marriska
alumni TE'2002